You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Kaligono
Kaligono

Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo, Provinsi Jawa Tengah

KALIGONO GUMREGUT ( Guyub Unggul Makmur Rejo Edi Guno Ulet Taqwa ) JAM PELAYANAN DESA HARI SENIN SAMPAI JUMAT MULAI PUKUL 08.00 SAMPAI DENGAN PUKUL 14.00 SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA Adhedhasar Tradisi, Nuju Modernisasi - Mbangun Desa Kanthi Guyub Rukun, Kinarya Raharjaning Bebrayan - Sesarengan Mbangun Desa, Mandiri lan Ngayomi - Website Resmi Desa Kaligono Maju, Informatif, dan Melayani -

Sejarah Desa

Admin 26 Agustus 2016 Dibaca 3.466 Kali
Sejarah Desa

 

MUTIARA TERPENDAM

LERENG MENOREH

SEJARAH DESA KALIGONO

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Masyarakatnya secara umum dikenal hidup dengan berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Indonesia terus membangun peradaban yang membawa berbagai perubahan dan hal-hal baru dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian, peradaban masa kini tidak dapat dipisahkan dari peradaban masa lalu. Sejarah dan kebudayaan memiliki keterkaitan yang memberikan makna penting bagi kehidupan masyarakat saat ini maupun generasi yang akan datang.

Memahami sejarah merupakan hal penting karena dapat memberikan pengaruh positif dalam membangun prinsip kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat yang memahami dan mencintai sejarah, budaya, serta tradisinya akan lebih mampu menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sebagaimana ungkapan Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa bangsa Indonesia harus tetap berpegang teguh pada sejarah yang memiliki nilai luhur dan kearifan lokal. Dengan demikian, perubahan zaman dan pengaruh dari luar tidak akan dengan mudah menggeser nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Asal-Usul Desa Kaligono

Desa Kaligono, sebagaimana tempat-tempat lain yang memiliki sejarah panjang, tidak terlepas dari pengaruh peradaban masa lalu. Sejarah Desa Kaligono memiliki nilai dan cerita yang bermakna, yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat.

Sejarah Desa Kaligono dikenal melalui kisah Talakbroto dan Caranggesing, sebuah cerita yang berkembang sebagai bagian dari sejarah dan legenda masyarakat di wilayah Lereng Menoreh.

Kisah Talakbroto

Talakbroto adalah seorang wanita cantik yang tinggal di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ia memiliki rambut yang sangat panjang dan tergerai hingga tidak dapat diikat ataupun disanggul seperti kebanyakan wanita pada masa itu.

Karena rambutnya yang sangat panjang, Talakbroto selalu ditemani beberapa orang pengawal ketika bepergian. Para pengawal tersebut bertugas memegangi rambutnya agar tidak menyentuh tanah.

Talakbroto merupakan putri seorang kesatria yang sangat disegani di daerahnya. Ayahnya bernama Brojosingo, seorang tokoh yang dikenal karena kesaktian dan kedigdayaannya.

Pada masa mudanya, Brojosingo merupakan prajurit Majapahit yang terkenal sakti. Karena kemampuannya tersebut, banyak orang yang segan dan takut kepadanya.

Pada suatu ketika, Brojosingo mendapat tugas memimpin pasukan Majapahit bersama Brojotoko dan Brojonolo untuk menghadapi prajurit dari Kadipaten Blambangan, salah satu wilayah Majapahit yang hendak melakukan pemberontakan.

Namun, dalam peperangan tersebut pasukan Majapahit mengalami kekalahan. Brojosingo kemudian memutuskan untuk membawa istri dan kedua anaknya, yaitu Caranggesing dan Talakbroto, menuju ke arah barat hingga akhirnya berhenti di kawasan Pegunungan Menoreh.

Di tempat tersebut, Brojosingo memulai kehidupan baru sebagai seorang petani sekaligus meneruskan perjuangannya dalam membesarkan kedua anaknya.

Talakbroto dan Rambut Panjangnya

Nama Brojosingo tetap dikenal luas sebagai seorang yang sakti. Hal tersebut tentu turut memberikan pengaruh terhadap kehidupan keluarganya.

Ketika menginjak dewasa, Talakbroto tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Banyak lelaki yang tertarik dengan kecantikannya, tetapi tidak ada seorang pun yang berani melamarnya untuk dijadikan istri. Mereka merasa sangat segan kepada Brojosingo, ayah Talakbroto.

Sementara itu, Caranggesing, kakak Talakbroto, juga tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan disegani. Seperti ayahnya, Caranggesing memiliki wibawa yang besar sehingga masyarakat di sekitarnya sangat menghormatinya. Namun, ia juga dikenal memiliki sifat keras kepala sehingga masyarakat tidak berani menentangnya.

Talakbroto sendiri memiliki kegemaran mandi di sungai bersama teman-temannya. Sungai tempat mereka bermain memiliki air yang sangat jernih. Tidak mengherankan apabila mandi di sungai tersebut menjadi kesenangan tersendiri bagi Talakbroto dan teman-temannya.

Selain airnya yang jernih, sungai tersebut juga memiliki banyak ikan. Tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan keberadaan ikan-ikan tersebut untuk mencari rezeki.

Pada suatu hari, Talakbroto mandi bersama teman-temannya. Ketika berada di sungai, ia membiarkan rambut panjangnya tergerai mengikuti aliran air. Tidak ada pengawal yang memegangi rambutnya seperti biasanya.

Talakbroto begitu gembira bermain air bersama teman-temannya hingga tidak menyadari bahwa beberapa ikan tersangkut di rambut panjangnya.

Ketika hendak pulang, Talakbroto dan teman-temannya baru menyadari kejadian tersebut. Mereka kemudian mengambil ikan-ikan yang terjerat di rambut Talakbroto.

Setelah selesai mandi dan mengambil ikan-ikan tersebut, Talakbroto pun bergegas pulang dengan hati gembira.

Kesalahpahaman Caranggesing

Sesampainya di rumah, Talakbroto disambut oleh kakaknya, Caranggesing. Caranggesing ingin mengetahui perihal ikan yang tersangkut di rambut adiknya.

Talakbroto kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya di sungai. Namun, Caranggesing tidak mempercayai penjelasan adiknya.

Caranggesing justru menuduh Talakbroto telah melakukan perbuatan yang tidak semestinya dengan teman laki-lakinya di sungai.

Talakbroto sangat tersinggung mendengar tuduhan tersebut. Ia kemudian menangis. Namun, Caranggesing tetap tidak mempercayai penjelasan adiknya dan terus menyampaikan tuduhan tanpa bukti.

Dalam keadaan emosi dan merasa sangat terpukul, Talakbroto kehilangan kendali. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil keris yang berada di pinggang kakaknya.

Dengan air mata yang terus membasahi pipinya, Talakbroto memangkas habis rambut panjangnya.

Seketika itu pula, hilanglah pesona rambut panjang yang selama ini menjadi ciri khas kecantikannya.

Caranggesing terbelalak kaget melihat tindakan adiknya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Talakbroto akan melakukan tindakan tersebut.

Belum hilang rasa terkejutnya, Talakbroto kemudian menancapkan keris ke dadanya sendiri. Nyawa Talakbroto pun melayang saat itu juga.

Caranggesing menjerit melihat darah keluar dari tubuh adiknya. Hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan kejadian tersebut. Semua terjadi begitu cepat dan tidak sempat dicegahnya.

Caranggesing segera bergerak hendak memeluk jasad adiknya. Namun, sebelum tangannya menyentuh tubuh Talakbroto, ia melihat tubuh adiknya seolah melayang.

Caranggesing terpana menyaksikan kejadian tersebut.

Tiba-tiba, aroma harum menyeruak memenuhi udara dan membuat Caranggesing semakin tertegun. Semua terasa gelap bagi dirinya. Pemuda yang dikenal berhati keras tersebut akhirnya pingsan dalam kesedihan yang mendalam.

Asal Nama Kaligono dan Kaligesing

Beberapa saat kemudian, Caranggesing terbangun. Ia masih larut dalam kesedihan dan tangis kepedihan akibat kehilangan adiknya.

Brojosingo kemudian beranjak dari lamunannya. Ia mengucapkan kata-kata yang kemudian dipercaya menjadi dasar penamaan beberapa tempat di wilayah Kaligesing.

Sejak hari meninggalnya Talakbroto, Brojosingo menamai tempat tinggalnya dengan nama Kaligono.

Nama Kaligono berasal dari dua kata, yaitu “kali” yang berarti sungai dan “gono” yang dimaknai sebagai dewa pendidikan.

Melalui nama tersebut, Brojosingo ingin mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi. Ia mengajarkan bahwa menuduh seseorang tanpa bukti merupakan perbuatan yang tidak baik.

Nama Kaligono hingga kini digunakan sebagai nama salah satu desa di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Selain Kaligono, Brojosingo juga memberikan nama untuk sungai tempat Talakbroto mandi beserta wilayah di sekitarnya.

Wilayah tersebut kemudian disebut Kaligesing, yang merupakan gabungan dari kata “kali” dan “gesing”. Kata “gesing” diambil dari nama kakak Talakbroto, yaitu Caranggesing.

Kaligesing kemudian dimaknai sebagai sungai yang menjadi tempat terjadinya pertengkaran antara Talakbroto dan Caranggesing, yang pada akhirnya menyebabkan kematian Talakbroto di ujung keris milik kakaknya.

Hingga kini, nama Kaligesing masih digunakan sebagai nama salah satu kecamatan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah Talakbroto dan Caranggesing mengandung pesan moral yang tetap relevan hingga saat ini, yaitu bahwa menuduh seseorang tanpa bukti merupakan perbuatan yang tidak baik dan dapat menimbulkan akibat yang sangat besar.

Kepala Desa Kaligono dari Masa ke Masa

Desa Kaligono hingga saat ini telah dipimpin oleh 6 orang Kepala Desa, yaitu:

  1. Bapak Surodimejo
    Masa jabatan: 1926–1941

  2. Bapak Sastro Prayitno
    Masa jabatan: 1942–1958

  3. Bapak Prawiro Hardjono
    Masa jabatan: 1959–1990

  4. Bapak Pardi Hadisubroto
    Masa jabatan: 1991–1998

  5. Bapak Harmanto
    Masa jabatan: 1999–2006

  6. Bapak Suroto
    Masa jabatan: 2007–sekarang

Warisan Sejarah Desa Kaligono

Sejarah Desa Kaligono bukan sekadar kisah tentang asal-usul sebuah nama. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah Talakbroto dan Caranggesing mengajarkan pentingnya menjaga kepercayaan, mengendalikan emosi, serta tidak mudah menuduh seseorang tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Bagi masyarakat Desa Kaligono, sejarah tersebut menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya yang patut dikenang, dipelajari, serta dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Kaligono – Mutiara Terpendam di Lereng Menoreh.

"dipecah jd 2. Desa Kaligono dan Desa Kaligesing
Japar. SE 07 Mei 2026
"Pemecahan desa menjadi dua desa merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan pemerintahan, pemerataan pembangunan, serta memperpendek rentang kendali pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian, proses pemecahan desa harus mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain jumlah penduduk, luas wilayah, potensi desa, kondisi sosial budaya, kemampuan keuangan desa, serta kesiapan sarana dan prasarana pemerintahan. Selain itu, pemecahan desa harus melalui tahapan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, dimulai dari musyawarah masyarakat desa, pembahasan di tingkat desa dan kecamatan, hingga pengajuan kepada pemerintah kabupaten untuk dilakukan kajian lebih lanjut. Tujuan utamanya bukan sekadar memisahkan wilayah, tetapi memastikan bahwa desa hasil pemekaran nantinya mampu mandiri, memberikan pelayanan yang lebih baik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah desa pada prinsipnya akan mendengarkan aspirasi masyarakat dan membuka ruang komunikasi bersama seluruh unsur masyarakat agar keputusan yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi seluruh warga desa.
Admin (Administrator) 11 Mei 2026
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image